Puisi @ 05 Oct 2006 12:48 am by Danang
kupersembahkan ini seutuhnya atas nama cinta..
dari jiwa dan hati..
bukan untuk memilikimu,
bukan pula untuk merengkuhmu..
hanya untuk menyanjungmu,
tanpa memintamu untuk bersujud dikakiku..
karna ini semua hanya ungkapan cinta dariku untukmu..
1 Comment »
Puisi @ 05 Oct 2006 06:32 am by Danang
Jangan menangis
Karena ini saatnya kita tersenyum
Menapaki hari sambil bernyanyi
Dan berjalan diatas kebahagiaan
Kini, saatnya kita menanam bunga
Yang kelak akan terselip di rambut kita
1 Comment »
Puisi @ 06 Oct 2006 08:12 am by Danang
Sejak bunga kecil turun kebumi
Bergegaslah, karena siang sudah menjelang
Kau bisa menoleh kemanapun
Ke laut, ke gunung, ke padang manapun
Waktunya telah tiba, bergembiralah
Bersama senyum disungging bibir
No Comments »
Puisi @ 06 Oct 2006 08:13 am by Danang
Isilah jiwamu dengan nyanyian kedamaian
Isilah hatimu dengan kidung persaudaraan
Palingkan mukamu pada keindahan taman
Segarkan tubuhmu dengan sejuknya hutan rindang
Basuh otakmu dengan nilai dan budaya
Penuhilah hidup dengan nuansa baru
Dari aliran pikiran yang fitrah dan suci
Continue Reading »
No Comments »
Puisi @ 01 Nov 2006 06:13 am by Danang
Malam larut dalam secangkir kopi
Risaukupun ikut larut dalam sepi
Melebur bersama hening sunyi
Menuju kepuncak sepi, menepi
Ketika cahaya menghilang dalam genggaman malam
Seperti warna putih yang memudar
Aku risau, tapi aku tak mau terburu-buru
Seperti daun yang tetap bertahan, tinggal diujung dahan saat kemarau panjang
Begitu juga kamu
Terus mendekap sepi diantara gemuruh riuh
Kita harus tetapmenunggu
Diujung jalan sepi
Hening yang terus meninggi
2 Comments »
Puisi @ 06 Oct 2006 08:18 am by Danang
Detik malam terhenti
Seperti mawar yang tak lagi tersenyum untukku
Seperti angin yang tiba-tiba berhenti berdesir
Dan tak lagi membawa kabar dari seberang laut.
Continue Reading »
3 Comments »
Cerpen @ 12 Oct 2006 07:40 am by Danang
Selasa, 5 pebruary 2002
Pukul 05.37
 |
Putih menyala dari langit, merembet mulai dari pucuk gunung mengusir kabut dari rumahnya. Kabut itu berlari melintasi bangunan dari bambu, menuju gedung tinggi, lalu lenyap ditelan asap pabrik. Seekor anjing kudisan menyeret bangkai kucing yang masih segar melintasi pagar lalu masuk kebawah selokan yang kering. Kucing itu tak pernah bercita-cita dimangsa anjing. Tapi ia tak mampu memilih hidup atau mati, dimakan anjing atau dibunuh manusia atau hidup merdeka.
Dingin. Hening. Dua koran pagi tergeletak lesu di teras rumah. Ada sebuah surat juga terdampar diantara koran itu. Tak ada nama pengirimnya. Aku enggan membukanya. Sekarang musim teror. Ada beberapa terror Bom di daerah, juga banyak terror-teror pembunuhan. Dan yang paling kejam adalah terror kenaikan harga yang menyebabkan beberapa orang kelaparan. Aku ambil dua koran itu. Tertulis beberapa judul berita. Tema tetap sama seperti berita kemarin. Sepertinya negeri ini selalu jalan ditempat, atau bahkan berjalan mundur.Banjir tidak juga surut. Korban tewas 25 orang, satu hilang. Harga beras tinggi. Pelanggaran HAM. Pelecehan seksual.Wanita menuntut haknya. Padi petani ludes, sembako naikbla bla bla. Ahbiasa, dari dulu juga selalu begitu. Konglomerat mendapat bantuan ratusan milyard. Pembayaran hutang debitor besar diperpanjang. Subsidi listrik, telepon, BBM dikurangi. Pendidikan dipermainkan oleh masalah ebtanas dan ujian. Continue Reading »
No Comments »
Puisi @ 01 Nov 2006 06:54 am by Danang
Air tiba-tiba jatuh ke bumi
Meresaplah hingga akar-akar yang menanti
Kan tersimpan kau di hati bumi
Aku tetap duduk dalam ruang sunyi
Terkurung dalam warna biru
Air lembut mengalir mengikuti sungai
Tiba-tiba kabarmu menari-nari di atas sepi
Membentuk sketsa warna – warni
Kugapai dan kubaca senyummu
Kau lekatkan bibirmu ditelingaku dan berbisik
“Jangan biarkan aku lama menunggu”
1 Comment »